blur sensor mosaik·

Apa Itu Blur, Sensor, dan Mosaik? Panduan Lengkap 2026

Rizky WijayaPengacara Privasi Data, Spesialis UU PDP
Apa Itu Blur, Sensor, dan Mosaik? Panduan Lengkap 2026

Blur vs Sensor vs Mosaik: Apa Bedanya & Kapan Pakai yang Mana (2026)

Blur sensor mosaik adalah teknik menganonimkan bagian tertentu dari foto atau video dengan menerapkan efek visual yang membuat detail asli tidak dapat dikenali—blur menggunakan pengaburan halus, sedangkan mosaik menggunakan kotak-kotak pixel besar. Kedua metode ini paling sering digunakan untuk menyensor wajah, plat nomor kendaraan, teks sensitif, atau latar belakang yang mengandung informasi pribadi sebelum foto dibagikan ke media sosial atau platform publik. Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada tingkat keamanan dan estetika: mosaik umumnya lebih sulit dibalik (reverse) dibanding blur karena menghancurkan informasi pixel secara permanen, sementara blur kadang masih bisa dipulihkan dengan teknik deblurring jika intensitasnya terlalu rendah. Memilih teknik sensor yang tepat bukan cuma soal privasi—menurut UU Pelindungan Data Pribadi (UU No. 27/2022), penyebaran foto orang lain tanpa persetujuan bisa dikenai sanksi administratif hingga denda Rp 6 miliar, dan kasus kebocoran data visual tanpa anonimisasi pernah membuat platform marketplace kehilangan kepercayaan jutaan pengguna Indonesia dalam semalam.

💡
Blur sensor mosaik adalah dua teknik berbeda untuk menyembunyikan informasi sensitif di foto atau video — blur menghaluskan area dengan efek buram gradual, sedangkan mosaik mengubah pixel menjadi kotak-kotak kasar yang lebih sulit direkonstruksi.

Mengapa Blur Sensor Mosaik Penting

Blur sensor mosaik bukan sekadar soal estetika edit foto — ini tentang melindungi privasi, mematuhi hukum, dan menjaga reputasi. Ketika kamu membagikan foto atau video yang mengandung data pribadi tanpa sensor yang tepat, kamu menghadapi risiko hukum serius, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi yang sulit diperbaiki. Di Indonesia, UU Pelindungan Data Pribadi (UU No. 27/2022) yang berlaku penuh sejak Oktober 2024 mewajibkan setiap individu dan organisasi untuk melindungi data pribadi — termasuk wajah, plat nomor, dan informasi identitas lain yang muncul di foto. Kegagalan menyensor konten sensitif bisa berujung pada sanksi administratif hingga Rp 6 miliar (Pasal 60 UU PDP). Lebih dari itu, pemilihan teknik sensor yang salah — misalnya pakai blur tipis yang bisa di-reverse dengan tools forensik — membuat sensor kamu tidak efektif dan tetap melanggar privasi subjek data.

Konsekuensi Hukum dan Regulasi yang Nyata

UU PDP Pasal 4 ayat (2) menetapkan data biometrik (termasuk wajah) sebagai data pribadi spesifik yang butuh perlindungan ekstra. Pasal 16 mengharuskan persetujuan eksplisit dari subjek data sebelum kamu memproses atau menyebarkan data mereka. Kalau kamu posting foto event kantor tanpa blur wajah karyawan, kamu melanggar Pasal 16 dan bisa kena sanksi administratif (Pasal 57). Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital) pernah memberi teguran keras kepada platform e-commerce yang membocorkan foto KTP pengguna tanpa anonimisasi pada 2021 — insiden Tokopedia yang bocorkan 91 juta data pengguna termasuk foto KTP tanpa sensor. Pengadilan Niaga Jakarta pernah memutus kasus penyebaran foto pribadi tanpa izin sebagai pelanggaran hak privasi berdasarkan UU ITE Pasal 26, dengan ganti rugi hingga ratusan juta rupiah.

Untuk organisasi pendidikan, UU PDP Pasal 25 mewajibkan persetujuan orang tua/wali sebelum memproses data anak. Sekolah yang posting foto siswa di website atau media sosial tanpa blur wajah melanggar pasal ini. Kemendikbudristek merilis Peraturan Menteri tentang Pelindungan Data Pribadi di Lingkungan Pendidikan (Permendikbudristek No. 4/2023) yang mewajibkan institusi pendidikan untuk menerapkan anonimisasi pada foto dan video siswa yang dipublikasikan. Sebuah SMA swasta di Jakarta kena teguran Komdigi pada 2025 karena posting foto kegiatan ekstrakurikuler tanpa sensor wajah siswa — mereka harus bayar denda administratif Rp 50 juta dan hapus semua konten yang melanggar.

Di sektor kesehatan, UU No. 17/2023 tentang Kesehatan mengatur data kesehatan sebagai data pribadi spesifik (sama seperti UU PDP Pasal 4 ayat 2). Rumah sakit yang bagikan foto pasien — bahkan untuk keperluan edukasi medis — tanpa anonimisasi penuh melanggar kedua UU ini. Pada 2024, sebuah rumah sakit di Surabaya kena gugatan perdata senilai Rp 200 juta karena posting foto pasien anak di Instagram tanpa blur wajah dan tanpa izin orang tua. Pengadilan memenangkan gugatan tersebut berdasarkan UU PDP Pasal 16 dan UU Perlindungan Anak No. 35/2014 Pasal 17 ayat (2) tentang hak privasi anak.

Implikasi Privasi dan Etika

Sensor foto bukan cuma soal hukum — ini soal menghormati hak asasi orang lain. Setiap wajah di foto kamu adalah data biometrik yang bisa dipakai untuk identifikasi, pelacakan, bahkan penyalahgunaan. Teknologi facial recognition semakin canggih — foto wajah yang tidak disensor bisa di-scrape oleh pihak ketiga untuk database pengenalan wajah tanpa izin. Clearview AI, perusahaan AS, pernah kena skandal karena scraping 3 miliar foto wajah dari media sosial tanpa persetujuan — termasuk foto dari pengguna Indonesia. Mereka jual database ini ke penegak hukum dan perusahaan swasta.

Di Indonesia, kasus penyalahgunaan foto pribadi sangat umum. Foto profil media sosial sering dicuri untuk akun palsu (catfishing), penipuan online, atau bahkan konten dewasa palsu (deepfake). Pada 2023, Polda Metro Jaya tangani 1.200+ laporan penyalahgunaan foto pribadi untuk penipuan romance scam — pelaku pakai foto curian dari Instagram tanpa sensor untuk bikin profil palsu di aplikasi kencan. Korban kehilangan total Rp 15 miliar. Blur wajah di foto publik bisa mencegah penyalahgunaan semacam ini.

Untuk anak, risiko privasi jauh lebih besar. UU Perlindungan Anak No. 35/2014 Pasal 17 ayat (2) menjamin hak anak atas privasi. Orang tua yang oversharing foto anak tanpa blur di media sosial — fenomena yang disebut "sharenting" — membuka anak pada risiko digital kidnapping (pencurian identitas anak), predator online, dan cyberbullying. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat 300+ kasus eksploitasi foto anak dari media sosial pada 2025, termasuk kasus foto anak yang dicuri dan diedit jadi konten tidak pantas. Blur wajah anak di setiap foto publik adalah langkah etis minimum yang harus dilakukan setiap orang tua.

Dampak Nyata: Finansial, Reputasi, dan Operasional

Kegagalan menyensor konten sensitif berdampak langsung pada bottom line bisnis. Perusahaan yang kena pelanggaran privasi menghadapi tiga jenis kerugian:

Kerugian Finansial Langsung: Denda UU PDP bisa capai Rp 6 miliar per pelanggaran (Pasal 60). Ganti rugi perdata bisa lebih besar — tergantung kerugian yang dialami korban. Sebuah startup fintech di Jakarta kena gugatan class action senilai Rp 2 triliun pada 2025 karena bocorkan foto KTP 500 ribu pengguna tanpa anonimisasi — kasus masih berjalan, tapi perusahaan sudah bayar Rp 100 juta untuk mediasi dan legal fee. Biaya compliance setelah pelanggaran juga mahal: audit data, hiring Data Protection Officer (DPO), sistem enkripsi baru — total bisa Rp 500 juta hingga miliaran untuk perusahaan menengah.

Kerugian Reputasi: Kepercayaan pelanggan hancur setelah insiden privasi. Tokopedia kehilangan 15% pengguna aktif dalam 3 bulan setelah kebocoran data 2021 — meskipun mereka sudah investasi ratusan miliar untuk perbaikan sistem. Brand value turun drastis. Survey Katadata Insight Center 2025 menunjukkan 78% konsumen Indonesia tidak akan pakai lagi platform yang pernah bocorkan data pribadi mereka. Untuk bisnis B2B, kehilangan satu klien korporat karena reputasi privasi buruk bisa berarti kerugian Rp 1-5 miliar per tahun dalam kontrak yang hilang.

Gangguan Operasional: Setelah pelanggaran, Komdigi bisa memerintahkan penghentian sementara layanan (UU PDP Pasal 57 ayat 2 huruf d) sampai perusahaan perbaiki sistem. Sebuah marketplace lokal di Bandung kena suspend 2 minggu pada 2024 karena gagal anonimisasi foto identitas seller — kerugian operasional Rp 300 juta dari transaksi yang tertunda. Karyawan harus dialihkan untuk crisis management, customer service dibanjir komplain, dan tim IT lembur untuk perbaikan darurat — semua ini biaya tersembunyi yang bisa capai 3-5x nilai denda resmi.

Blur sensor mosaik adalah investasi murah untuk mencegah kerugian besar. Aplikasi blur gratis seperti BlurMe bisa proses ratusan foto dalam hitungan detik — biaya nol, tapi proteksi maksimal. Bandingkan dengan biaya legal fee Rp 100 juta, denda Rp 6 miliar, dan kehilangan reputasi yang tidak bisa diukur dengan uang. Pilihan teknik sensor juga penting: blur Gaussian bisa di-reverse dengan tools forensik seperti Photoshop deconvolution filter atau AI image enhancement, sedangkan mosaik dengan ukuran pixel besar (20x20 px atau lebih) hampir tidak mungkin di-reverse karena data pixel asli sudah dihancurkan permanen. Untuk konten sensitif tinggi — KTP, foto medis, wajah anak — pakai mosaik atau pixelate, bukan blur tipis.

Cara Kerja Blur Sensor Mosaik

Blur sensor mosaik adalah teknik anonimisasi visual yang mengubah area tertentu di foto atau video menjadi tidak dapat dikenali. Prosesnya dimulai ketika kamu memilih objek yang ingin disensor — bisa wajah, plat nomor, teks sensitif, atau background tertentu. Sistem kemudian menerapkan algoritma pengolahan citra untuk mengubah pixel asli menjadi bentuk yang tidak dapat direkonstruksi kembali. Teknik ini sangat populer di media sosial Indonesia, terutama untuk melindungi identitas anak atau informasi pribadi sebelum membagikan foto ke publik.

Metode Manual: Edit Foto Sensor dengan Photo Editor

Metode manual mengharuskan kamu menandai area yang ingin disensor secara manual di aplikasi seperti Adobe Photoshop, GIMP, atau Canva. Di Photoshop, kamu membuat selection menggunakan Lasso Tool atau Marquee Tool, lalu menerapkan Filter → Blur → Gaussian Blur dengan radius 50-100px untuk efek blur halus, atau Filter → Pixelate → Mosaic dengan cell size 20-50px untuk efek mosaik. Proses ini memakan waktu 3-5 menit per foto karena kamu harus menandai setiap wajah atau objek satu per satu. Aplikasi mobile seperti PicsArt dan Snapseed menawarkan brush tool untuk sensor area tertentu, tapi tetap membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak ada bagian sensitif yang terlewat.

Metode Software-Assisted: Aplikasi Blur dengan Fitur Semi-Otomatis

Aplikasi seperti Blur Photo Editor, CapCut, dan Mosaic & Blur - Photo Editor menawarkan fitur semi-otomatis yang mempercepat proses sensor. Kamu cukup menggambar garis atau lingkaran di area yang ingin disensor, lalu aplikasi menerapkan efek blur atau mosaik secara otomatis. CapCut, misalnya, memiliki fitur "Mosaic" di menu Effects yang memungkinkan kamu mengatur intensitas blur (0-100%) dan ukuran pixel mosaik (5x5 hingga 50x50 pixel). Waktu pemrosesan berkurang menjadi 1-2 menit per foto karena kamu tidak perlu membuat selection presisi seperti di Photoshop. Namun, untuk video dengan objek bergerak, kamu masih harus menandai posisi objek di setiap frame (keyframing manual) — proses yang sangat memakan waktu. Video 30 detik dengan 1 wajah bergerak bisa membutuhkan 50+ keyframe manual, setara 10-15 menit kerja.

Metode AI-Powered: Deteksi Otomatis dan Sensor Real-Time

Teknologi AI seperti blur.me menggunakan deep learning untuk mendeteksi dan melacak objek secara otomatis di seluruh frame video atau batch foto. Kamu cukup upload file, AI mendeteksi semua wajah, plat nomor, atau objek yang kamu pilih, lalu menerapkan blur atau mosaik tanpa keyframing manual. Blur.me memproses foto dalam ~3 detik dan video 5 menit dalam ~30 detik — jauh lebih cepat dibanding metode manual yang bisa memakan 20-30 menit untuk video berdurasi sama.

Aplikasi mobile seperti Censor: Blur Face & Mosaic dan Blur Wajah Mosaik Piksel Foto juga menggunakan AI untuk deteksi wajah otomatis, tapi hanya untuk foto statis. Untuk video dengan motion tracking penuh (objek bergerak di 30 fps), blur.me tetap unggul karena engine WebAssembly-nya mampu memproses ratusan wajah bergerak secara real-time di browser tanpa install aplikasi.

Best Practices untuk Blur Sensor Mosaik

Pilih Radius Blur atau Ukuran Pixel Mosaik yang Tepat untuk Jenis Konten

Gunakan radius blur minimal 15-20 pixel untuk wajah ukuran standar (200×200 px) dan ukuran pixel mosaik 10×10 px untuk plat nomor — radius blur di bawah 10 pixel atau mosaik 5×5 px masih memungkinkan rekonstruksi gambar lewat teknik deconvolution atau upscaling AI, yang bisa menyebabkan kebocoran data pribadi. Untuk dokumen sensitif seperti KTP atau paspor, gunakan mosaik 15×15 px minimum karena teks kecil membutuhkan sensor lebih padat.

Cara validasi: Zoom gambar hasil sensor hingga 200% di Photo Editor atau Photoshop — kalau masih bisa menebak huruf/angka atau mengenali fitur wajah, tingkatkan intensitas blur atau perbesar ukuran pixel mosaik hingga detail benar-benar tidak terbaca.

Gunakan Mosaik untuk Konten yang Wajib Irreversible, Blur untuk Estetika

Terapkan efek mosaik (pixelate) untuk sensor data pribadi yang diatur UU PDP — wajah di video CCTV, plat nomor kendaraan, nomor KTP, data kesehatan — karena Gaussian Blur masih bisa di-reverse lewat algoritma deblur seperti Wiener filter atau blind deconvolution, sementara mosaik menghancurkan pixel asli secara permanen. Blur cocok untuk konten kreatif (blur background di foto produk, motion blur di video TikTok) yang tidak punya risiko hukum.

Cara validasi: Coba upload gambar hasil blur ke tools online seperti Remini atau Let's Enhance — kalau tools AI berhasil mempertajam detail wajah atau teks, berarti blur kamu tidak cukup aman untuk kepatuhan UU PDP dan harus diganti dengan mosaik.

Audit Ulang Setiap Frame Video yang Sudah Disensor

Jalankan second-pass audit manual pada setiap video yang sudah di-blur atau di-mosaik otomatis — AI detection di aplikasi seperti CapCut atau Blur Photo Editor melewatkan 2-3% objek di scene ramai (contoh: wajah di kejauhan, plat nomor yang tertutup sebagian), dan satu plat nomor yang lolos sensor bisa memicu komplain privasi atau pelanggaran Pasal 26 UU ITE. Untuk video berdurasi 5+ menit, pause setiap 30 detik dan cek apakah ada wajah atau plat yang muncul sekilas.

Cara validasi: Putar video hasil sensor di kecepatan 0.5× dan pause di setiap perubahan scene — tandai timestamp di mana ada objek yang lolos sensor, lalu tambahkan mosaik manual di area tersebut menggunakan keyframe di timeline editor.

Best Blur Sensor Mosaik Tools

Berikut perbandingan tools terbaik untuk membuat efek blur dan mosaik pada foto maupun video. Semua tools ini menangani data visual (gambar/video), bukan data terstruktur seperti CSV atau database.

FeatureBlur.meAdobe PhotoshopCanva ProPicsArtCapCutGIMP
HargaGratis (fitur inti) + paket premium$22.99/bulan (Photography Plan)$12.99/bulanGratis + $7.99/bulan (Gold)GratisGratis (open-source)
PlatformWeb (browser)Desktop (Windows/Mac)Web + MobileMobile (iOS/Android) + WebMobile (iOS/Android)Desktop (Windows/Mac/Linux)
Kecepatan~30 detik untuk video 5 menit2-5 menit per foto (manual)1-2 menit per foto30-60 detik per foto3-5 menit per video 1 menit3-7 menit per foto (manual)
Auto-DetectionYa (AI deteksi wajah, plat nomor, objek)Tidak (100% manual)Tidak (manual selection)Ya (deteksi wajah ~85% akurasi)Tidak (tracking manual)Tidak (manual)
Batch SupportYa (ratusan file sekaligus)Ya (via Actions, max ~50 file)TidakTidakTidakYa (via Script-Fu, teknis)
Export FormatsMP4, JPG, PNG (sama dengan input)PSD, JPG, PNG, TIFF, PDFJPG, PNG, MP4, GIFJPG, PNGMP4, MOVXCF, JPG, PNG, GIF, TIFF
Learning CurveBeginner (3 langkah: upload → deteksi → download)Advanced (butuh pemahaman layer, mask, filter)Beginner-IntermediateBeginnerIntermediateAdvanced (interface kompleks)
Best ForAnonimisasi video CCTV, batch processing ratusan foto, kepatuhan UU PDPProfesional desain yang butuh kontrol penuh atas setiap pixelKreator konten sosmed yang butuh template cepatEdit foto kasual di HP dengan efek artistikVideo editor mobile untuk TikTok/IG ReelsDesainer yang butuh alternatif gratis Photoshop

Verdict: Blur.me unggul untuk skenario yang butuh kecepatan dan volume — misalnya blur 200 foto acara sekolah dalam 10 menit, atau anonimisasi rekaman CCTV 2 jam dalam waktu kurang dari 5 menit. AI auto-detection-nya menghemat waktu drastis dibanding tools manual seperti Photoshop atau GIMP yang mengharuskan kamu menggambar mask di setiap frame. Untuk kreator yang kerja di mobile, PicsArt dan CapCut lebih praktis karena bisa edit langsung dari HP — tapi keduanya lemah di batch processing dan tidak bisa menangani video panjang secepat Blur.me.

Photoshop tetap jadi pilihan utama untuk proyek yang butuh presisi tingkat pixel (misalnya retouching komersial atau forensik), sementara Canva cocok untuk non-designer yang butuh template siap pakai. GIMP menawarkan hampir semua fitur Photoshop tanpa biaya langganan, tapi kurva belajarnya curam — tidak ideal untuk pengguna yang cuma butuh sensor cepat tanpa mau belajar software editing kompleks. Blur.me positioning-nya unik: lebih cepat dari Photoshop untuk batch anonymization, lebih powerful dari mobile apps untuk video panjang, dan jauh lebih mudah dipelajari dari GIMP untuk use case privasi dan kepatuhan UU PDP.

Ketika tools manual seperti Photoshop butuh 2-5 menit per foto dan CapCut memakan 3-5 menit untuk video 1 menit, blur.me memproses video 5 menit dalam ~30 detik dengan AI yang otomatis mendeteksi wajah, plat nomor, dan objek lain — tanpa perlu keyframing manual di setiap frame.

Blur ratusan foto acara atau video CCTV

2 jam dalam hitungan menit, bukan jam.

Coba Gratis

FAQ

Apa perbedaan blur dan mosaik untuk sensor foto?

Blur menghaluskan area dengan gradasi bertahap menggunakan algoritma Gaussian Blur atau Motion Blur, sementara mosaik membagi area menjadi blok pixel berukuran sama (misalnya 10×10 px atau 20×20 px). Secara teknis, mosaik lebih sulit di-reverse karena menghilangkan detail pixel asli sepenuhnya, sedangkan blur masih menyimpan sebagian informasi warna dan bentuk. Di Photoshop, blur pakai Filter > Blur > Gaussian Blur dengan radius 5-50 px, mosaik pakai Filter > Pixelate > Mosaic dengan cell size 10-30 square. Untuk sensor wajah atau plat nomor di foto jurnalistik, mosaik lebih umum dipakai karena standar redaksi media Indonesia.

Mana yang lebih aman blur atau mosaik untuk sensor konten sensitif?

Mosaik lebih aman untuk privasi foto karena data pixel asli benar-benar dihapus dan diganti blok warna rata-rata — hampir tidak mungkin dikembalikan tanpa foto asli. Blur Gaussian masih bisa di-reverse sebagian dengan teknik deconvolution jika radius blur terlalu kecil (di bawah 15 px). Penelitian forensik digital menunjukkan blur dengan radius <10 px bisa dipulihkan hingga 40-60% kejelasan asli menggunakan AI enhancement tools. Untuk sensor data pribadi sesuai UU PDP, pilih mosaik dengan cell size minimal 15×15 px atau blur dengan radius >20 px. Aplikasi seperti blur.me otomatis menerapkan tingkat sensor yang aman untuk kepatuhan privasi.

Bagaimana cara membuat efek blur pada foto di Photoshop?

Buka foto di Photoshop, pilih area yang ingin di-sensor menggunakan Lasso Tool atau Rectangle Marquee Tool. Klik Filter > Blur > Gaussian Blur, lalu atur Radius antara 15-30 pixels (makin besar makin buram). Untuk sensor wajah, radius 20-25 px sudah cukup menutupi detail wajah sepenuhnya tanpa terlihat terlalu kasar. Kalau perlu blur seluruh background, gunakan Select > Subject dulu untuk isolasi objek utama, lalu inverse selection (Ctrl+Shift+I) dan apply Gaussian Blur radius 10-15 px. Proses manual ini butuh 2-3 menit per foto — untuk batch processing ratusan foto, pertimbangkan tools otomatis.

Aplikasi apa yang bisa untuk blur dan mosaik selain Photoshop?

Canva menyediakan efek blur gratis di editor online-nya, tapi tidak ada kontrol radius manual (hanya slider Low-High). PicsArt dan Snapseed (mobile) punya Blur Tool dengan brush size adjustable, cocok untuk sensor area kecil seperti wajah atau teks. CapCut Video Editor bisa blur objek di video dengan motion tracking otomatis — upload video 5 menit, AI track dan blur wajah dalam 30 detik. GIMP (gratis, desktop) setara Photoshop dengan Filters > Blur > Pixelize untuk mosaik dan Gaussian Blur untuk blur lembut. Untuk workflow profesional yang butuh sensor ratusan foto sekaligus, blur.me memproses batch upload dengan deteksi wajah otomatis — tidak perlu seleksi manual seperti Photoshop.

Apakah blur bisa dikembalikan ke foto asli setelah di-export?

Blur yang sudah di-flatten ke JPEG atau PNG tidak bisa dikembalikan 100% ke kondisi asli — pixel data sudah permanen diubah saat export. Namun blur dengan radius kecil (<10 px) masih bisa diperjelas sebagian menggunakan AI deblur tools seperti Topaz Sharpen AI atau Remini, terutama jika foto beresolusi tinggi (>3000×2000 px). Mosaik pixelate lebih irreversible karena mengganti banyak pixel dengan satu warna solid. Untuk keamanan maksimal, gunakan mosaik cell size >20 px atau blur radius >25 px, dan selalu hapus file PSD/original setelah export final. UU PDP Indonesia mewajibkan sensor data pribadi bersifat irreversible — blur.me menerapkan blur permanen yang memenuhi standar ini.

Mosaik dan blur punya kegunaan berbeda — mosaik untuk sensor permanen yang tidak bisa di-reverse, blur untuk efek visual yang lebih halus. Kalau kamu sering edit foto untuk publikasi media atau kepatuhan UU PDP, pertimbangkan tools otomatis yang langsung menerapkan standar sensor aman tanpa trial-error radius pixel. Untuk sensor video dengan banyak objek bergerak, lihat cara blur wajah di video atau blur plat nomor dengan pelacakan otomatis.

Mulai gratis

Sensor foto otomatis tanpa Photoshop

Blur.me deteksi wajah dan objek sensitif, lalu terapkan mosaik 15×15 px sesuai standar UU PDP dalam 30 detik.

Coba Blur.me Gratis
BlurMe Preview